Bapakku Menginspirasi, Berlebihankah?

Tiba-tiba hadir di beranda TikTok  sebuah video berdurasi pendek  tentang kegalauan seseorang berlatar lagu Titip Rindu Buat Ayah. Dengan aransemen yang sudah dirubah menambah syahdunya suasana.


Ayah, dalam hening sepi ku rindu
Untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban
….

Ilustrasi : Zen

Isi kepalaku terasa terbang dan hinggap pada pundak pria paruh baya yang banyak kerutan di dahinya berkulit legam  bermata sayu. Sering menggandengku berjalan meski langkahku kecil yang harusnya tertinggal tapi kesabaran paripurnanya mengalahkan ego dan menomorsatukan aku. Teringat di suatu sore hujan rintik-rintik menjelang maghrib, aku kecil yang maunya main saja digendong, di dekap dibawanya ke mushola. Saat itu aku belum tahu apa itu mushola, apa fungsinya dan mengapa aku digendongnya kesana. Yang kuingat ketika mereka, kakak-kakak selesai melantunkan pujian terus iqomat. Aku diangkat bapak menuju pengimaman, aku didudukkan begitu saja di sebelah kaki bapak semenatara bapak menjadi imam sholat.

Menjadi rutinitas kegiatan bapak setiap malam, menyempatkan nderes, membaca Al-Qur’an. Aku kecil dibopong di dudukkkan di sebelahnya. Seperti layaknya anak kecil yang lain, aku pun bermain, merajuk, naik turun di pangkuanya. Dengan tangan kanan memegang Al-Qur’an, tangan kiri tetap menyambut tingkah dan rengek manjaku. Mesra, damai, begitu terus sampai aku tertidur di pangkuannya.

Keluargaku termasuk keluarga besar dengan banyak anak, dilihat dari sisi ekonomi termasuk menengah ke bawah. Bapak yang seorang petani sering juga mengajakku ke sawah, menyiram jagung, menyiangi rumput di sela-sela kacang ijo atau yang lain. Tiba saatnya panen jagung, banyak orang berada di sawah, tentu saja anak kecil juga banyak yang bermain-main, berlari kesana kemari, berkejar-kejaran, main kuda-kudaan. Ketika kami, anak-anak sudah mulai lelah dengan nafas terengah-engah, bapakku datang dikupaskannya dua tongkol jagung besar dan diberikan padaku sambil bilang : “ wes kono tumbas dawet” ( kesanalah beli dawet, red ). Aku berlari lagi menukar jagung dengan segelas dawet.

Lain lagi saat waktu senggang, bapakku selalu bersahabat dengan kaca mata bacanya. Aku tak paham apa yang dibaca, yang jelas buku tebal, kertasnya jelek, ada tulisan arab mendatar dan tulisan miring kecil-kecil kata per kata. Mungkin itukah yang namanya Kitab Kuning? Mambadiul Fiqhiyah, Safinatunnajah, Fathul Qorib atau yang lain. Kalau orang sekarang, inilah yang disebut berliterasi, membaca, membuat catatan kecil dan pada saat-saat tertentu bisa dipakai bahan untuk berkomunikasi dengan jamaah.

Yang seakan tak bisa move on dari ingatan, bapakku ke kota untuk urusan suatu hal dengan sepeda bututnya lengkap dengan bunyi khas rantai sepeda  yang sudah lama cerai dengan minyak rantai, kriet… kriet…syahdu. Pulangnya bapak membonceng satu buah semangka dan dua buah raket kayu lengkap dengan shuttle cock – nya. Gembira bahkan gembira sekali termasuk teman mainku ikut berlarian menyongsong sepeda bapakku. Mungkin panas atau capek setelah bersepeda lebih dari 20 km tak dirasakan. “ Le, ambil pisau di dapur…”. Bak anak panah melesat dari busurnya, cus langsung  mencari pisau. Bapak belah dan potong semangka dimakan bersama-sama. Puas makan bapakku bilang : “ nanti setelah ngaji, sebelum maghrib boleh kesini lagi main badminton”. Kami senang bukan kepalang meski tak tahu, badminton itu permainan apa.

Hmmm, itu semua tinggal kenangan. Bapak sudah pulang duluan ketika aku dan kakak-kakakku masih butuh bahu untuk bersandar, seakan lenyap, lenyap tanpa bekas. Kini, ketika sudah dewasa bahkan menjadi guru, kenangan itu muncul kembali, bagai menonton kaleidoskop, lengkap dengan makna-makna kehidupan. Mulai terjawab kenapa bapak tidak menyuruhku sholat atau mengaji tetapi aku kecil ditunjukkan tentang perilaku bapak yang sholat dan mengaji. Bapakku tak pernah menyuruhku belajar tapi ditunjukkan kepadaku seringnya membaca dan menulis. Bapakku tak pernah menyuruhku berbagi, tapi menunjukkan kepada kami perihal berbagi. Semua itu terjawab dengan sebuah kalimat, “Anak-anakku contoh, ucapan, perilaku bapakmu engkau jadikan pembiasaan kelak di kehidupamu”

Aku harus bernafas panjang dan menegadah ke langit, “Gusti berikan yang terbaik untuk bapak, teladannya menginspirasi profesiku yang kini menjadi guru”

(Admin/zen)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *