Dua Garis Biru, Novel Milenial yang Layak Dikonsumsi Kaum Kolonial

Ilustrasi Novel Dua Garis Biru

Belakangan ini, dalam kehidupan sehari-hari, kerap terdengar istilah Generasi Milenial dan Generasi Kolonial. Meski tak terlalu paham artinya dan asal usulnya namun nyatanya istilah tersebut sudah diterima dan digunakan masyarakat pada umumnya. Memperhatikan pekembangannya dalam masyarakat, Istilah ini dilatar belakangi oleh perkembangan teknologi informasi yang kian pesat dan cepat berkembang.

Milenial tidak memiliki batas waktu yang pasti untuk awal serta akhir dari era generasi ini. Namun, para peneliti serta para ahli pada umumnya menggunakan batas waktu untuk mengelompokan milenial mulai awal tahun 1980-an hingga awal tahun 2000-an. Remaja millenial sendiri atau generasi milenial biasa disebut dengan digital native, merupakan generasi remaja yang tumbuh dalam lingkungan serba digital. Mereka terlahir dengan lingkungan yang sudah mengalami perkembangan teknologi

Mengutip dari https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-pontianak/ generasi kolonial  tumbuh seusai peperangan, dimana karakteristik utamanya adalah memegang prinsip dan adat istiadat sehingga dikenal konservatif alias mempertahankan kebiasaan atau dengan kata lain “kolot” atau “kampungan”.   Tidak perlu dipungkiri kecepatan arus informasi kadangkala membuat anak-anak muda sekarang menjadi lebih arogan, apalagi yang sudah terpapar oleh kondisi sosial yang memperlihatkan hal-hal yang toxid. Para anak muda menganggap bahwa orang tua sudah masanya berlalu, tidak peduli se-epik apapun ceritanya, yang menjadi role model tetap saja orang-orang public figure yang terkenal dari media sosial ( https://www.kompasiana.com/alvarosipin/ ).

Dua Garis Biru, sebuah novel adaptasi Lucia Priandarini dari skenario film karya Gina S. Noer diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama dengan Digital ISBN 978-602-06-3187-5. Untuk versi cetak ISBN 978-602-06-3186-8, dengan jumlah halaman 208.

Di akhir pengantarnya Gina S. Noer mengajak pembaca untuk menikmati novel ini, selamat datang ke dunia cinta Dara dan Bima yang tak sempurna. Dara, gadis pintar kesayangan guru, dan Bima murid santai yang cenderung masa bodoh, menyadari bahwa mereka bukan pasangan sempurna. Dunia tidak sempurna tempat mereka bisa saling menertawakan kebodohan dan menerbangkan mimpi. Namun suatu waktu, kenyamanan membuat mereka melanggar batas.

Satu kesalahan dengan konsekuensi besar yang baru disadari kemudian. Kesalahan yang selamanya akan mengubah hidup mereka dan orang-orang yang mereka sayangi. Di usia 17, mereka harus memilih memperjuangkan masa depan atau kehidupan lain yang tiba-tiba hadir. Cinta sederhana saja ternyata tak cukup. Kenyataan dan harapan keluarga membuat Bima dan Dara semakin terdesak ke persimpangan, siap menjalani bersama  atau melangkah pergi ke dua arah berbeda.

Poster film Dua Garis Biru ( Sumber : https://www.suara.com/entertainment/2021/07/28/192959/

Penyesalan orang tua Bima nampak … “ Mungkin seharusnya kita lebih sering ngobrol kayak gini ya, Bim. Coba dari dulu Ibu kasih tahu dari pada kamu coba-coba yang salah.” ( hal 181). Pembaca diajak penasaran oleh novel ini dan sad ending-nya,

 … Perlahan Bima membuka surat itu.

Dear Adam,
Jika suatu hari kamu berfikir bahwa kamu lahir dari sebuah kesalahan, mungkin benar. Tapi bagiku, kelahiranmu adalah bukti kebaikan semesta. Kita pernah salah, tapi tak berarti kita akan selalu salah.  ( hal 205 ).

Banyak pelajaran berharga disisipkan dari novel ini, pembaca, saya, orangtua, kita sebagai pengajar / pendidik mestinya mengutamakan komunikasi, persuasif  dan humanis kepada anak didik kita. Bukan top down, atau guru selalu mendominasi, tapi dengarkan apa kata mereka, rangkul dan elus psikisnya, tandai dan tunjukkan ketika mulai berjalan oleng merambat keluar dari koridor serta munculkan simpati dan empati padanya.

(admin/zen)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *